31 Mei 2013

Nisa Mendengar dari Ayah, Nisa Mendengar dari Ibu #2

Bismillah,

yep, kelanjutan dari Nisa Mendengar dari Ayah, Nisa Mendengar dari Ibu yang sebelumnya.

... Sesi hafalan kami pun selesai dengan datangnya Okashi Time (waktunya makan cemilan-istilah saya sendiri :p). Setelah itu sesorean saya sempatkan mencolek-colek bahunya tiap ada kesempatan untuk mengulang hafalan barunya sampai ketika ia sedang berada di dekat ibunya,
     "Wal laili idza yaghsya..wan nahaari idza..idza apa kak?" tanyanya. Ibunya turut menoleh juga ke saya. Dengan raut wajah yang demikian datar dan ***** itu saya... aduh mampus mau diapain gue sama ibunya?...

     "Idza tajalla. hehe" jawab saya sambil was-was kalau kalau nanti tiba-tiba terjadi sesuatu di luar dugaan *lebay mode.
     "Apa itu?" kata ibunya Nisa sambil tersenyum. Hua...ternyata orangnya bisa senyum kok fiuh..
     "hehe..surat Al-lail, Bu. Tadi Nisa hafalan surat Al-lail ayat 1-2." Kemudian saya menceritakan hal ihwal hafalan sore itu. Tak disangka ibunya mengiyakan. Malahan si ibu meminta tolong,
     "Iya..tolong banget ya kak. Nanti Nisa ajarin ibu ya?" hm...buat saya pribadi saya jadi merasa gimana..gitu. Susah diekspresikan. Saya lihat betapa ibunya sangat bersemangat mengikutsertakan anaknya, mengantarnya ke taman Qur'an setiap sabtu, beliau sendiri semangat menambah ilmu agama dengan mengikuti pengajian khusus ibu-ibu yang membahas banyak hal.

     Oh ya, beliau tak malu-malu juga minta anaknya mengajarinya, padahal si anak masih ya..anak-anak (perkiraan saya usianya antara 8-9 tahun-an). Bahkan, kalau ingat cara beliau meminta tolong itu loh, yang membuat saya di satu sisi kagum. Alih-alih merasa sok tahu atau sombong tak mengakui jika beliau tak tahu malah dengan jujur beliau mengatakan keterbatasan pengetahuan agama keluarganya. *Yah semua sama-sama belajar sih bu.. saya juga hehe.. Berkebalikan dengan yang dulu sering saya temui di Indonesia ketika semua orang merasa tahu walaupun sebenarnya tak tahu*jangan-jangan saya termasuk juga* sehingga merasa malu dan tak perlu belajar lagi, gengsi.

    Disini saya mendapatkan catatan tersendiri. Hei hei, jika ibu-ibu yang sudah berumur saja masih semangat menambah ilmu agama masakan saya nggak sih? Pribadi merasa malu jika ternyata semangat saya masih kalah sama beliau-beliau itu. Oh ya, saya sering juga bertemu muslimah-muslimah yang usianya jauh lebih tua, yang amat sibuk kerjaannya, jauuh rumahnya dari masjid yang rela menyisihkan barang sepekan sekali untuk belajar agama. Lah saya?...

     Catatan dan pertanyaan selanjutnya: Sudah siapkah menjadi orang tua?
   Bahwa keluarga adalah dasar dari dibangunnya peradaban, patut menjadi catatan yang ditebal-cetak miring-garis bawah-kan. Calon orang tua hendaknya punya bekal yang cukup bukan hanya untuk kelangsungan rumah tangga dua orang belaka melainkan juga calon ladang investasi akhiratnya (baca: anak-anak).

   Jika anak-anak saya bisa menghafal dengan mendengar bacaan ayahnya ketika sholat atau ketika saya sering memperdengarkannya, sungguh betapa bahagianya jika yang mereka hafal tak hanya satu-dua surat belaka. Tak hanya tiga qul, atau surat-surat tertentu saja. Huahh..jadi bertanya-tanya, sampai mana hafalan saya? Kira-kira bagaimana nanti hafalan imam keluarga saya? memang masih berbilang beberapa tahun lagi tapi, tak ada salahnya bukan mempersiapkan? karena jika masih diberi kesempatan, lima, enam, tujuh tahun tak akan terasa ternyata tiba-tiba sudah di depan mata. Tau-tau ini, tau-tau itu.. *fiuh..

28 Mei 2013

Lagi lagi merasa, "Ah, tentu saya tidak ada apa-apanya dibanding dia."
Yah apalah saya ini, dilihat dari segi satu-dua-tiga amat banyak celanya. Andai ini persaingan, saya pikir saya tak akan mengalahkannya-walaupun saya tak berhenti. Untungnya, persaingan itu tidak hanya dengannya kok. Kalo mau ngitung sih, ada banyaaak lagi! Hitung saja ada berapa banyak perempuan di bumi ini. Okeh, persempit lagi, hitung saja ada berapa banyak muslimah di bumi ini. Huaaa banyak, memang. :|
Tapi tak apa, tentu harusnya 'persaingan' ini memacu saya jadi lebih baik lagi.
Oh ya, jadi ingatkan sama satu tweet dari @Dakwah_Kampus bunyinya begini,
"Setiap org pny kelebihannya msg-msg, tdk perlu dibanding-bandingkan dg org lain. Tak ada yg lebih baik mjd kita, selain diri kita sendiri.." 
Ehem, jadi terhibur :")

26 Mei 2013

Nisa Mendengar dari Ayah, Nisa Mendengar dari Ibu

Bismillah,

Sabtu sore sepekan yang lalu...
Seperti biasa, masjid Honjin ramai dengan aneka macam kegiatan. Ada pembelajaran tata cara memandikan dan mengafani jenazah untuk muslimah di lantai dua, ada bapak-bapak yang sibuk mengaji dan menambah hafalan di lantai tiga, serta keributan anak-anak di lantai empat yang sedang asyik mengikuti kegiatan Taman Qur'an. Hari itu saya datang terlambat, yah..kira-kira 30 menit dari jadwal yang seharusnya. Walhasil, ketika saya tiba, saya 'hanya' kebagian menyimak bacaan iqra' Aisyah, gadis keturunan Indonesia-Jepang yang usianya baru 2 tahun (nggak yakin juga ehe..) itu pun harus terhenti karena sudah masuk waktu shalat Asar.

    Ba'da Asar saya kembali menunggu Aisyah. Eh sayangnya yang ditunggu tak datang juga. Dugaan saya sih Aisyah tertidur di lantai dua (hasil pengamatan saya: Aisyah selalu mengantuk habis Asar). Ketika menunggu itulah Kak Tiwi, koordinator Taman Qur'an meminta saya menyimak hafalan surat pendeknya Nisa, gadis kecil berkulit sawo matang asli dari Padang. Hari itu Nisa menghafal surat At-Tiin dan Ad-Dhuha. Bacaannya lancar, banget malah. Maka, selesai setoran waktunya menambah hafalan..
     "Sekarang hafalannya ditambah ya.. kita baca Al-lail" sambil saya buka bagian surat Al-lail untuk Nisa baca. 
    "Hm... tapi Nisa nggak pandai yang ini. Susah..." katanya
    "Nggak papa, kita baca bareng-bareng ya. Nanti Nisa ulang bacanya satu ayat aja ya?" bujuk saya. Nisa pun mulai membaca ayat pertama, sedikit ragu-ragu rupanya, bacaannya pun terbata-bata. Nisa kelihatan ganbatte banget waktu itu. Saat itu saya pikir nggak akan masalah karena toh dia bisa mengulang-ulang bacaannya. Setelah mengulang kira-kira sepuluh kali, bacaannya sedikit lebih lancar. Namun, tiba-tiba di tengah ayat, "hm..Susah.." katanya sambil memelas.
     "Oh ya udah, Nisa mau hafalan surat yang lain?" Kata saya sambil menunjuk beberapa surat yang jumlah ayatnya lebih sedikit.
     "Hm...Nisa bisanya hafal karena dengar."
     "Oh, Nisa biasanya kalo hafalan dengerin dulu terus diulang-ulang ya? Ya udah, kakak bacain, Nisa dengerin , nanti kita ulang bareng-bareng." saya pikir dia sedang menjelaskan metode hafalannya yang biasa dengan ustadzah, ternyata, 
     "Bukan, Nisa pandai baca suratnya karena dengerin Bapak kalo sholat baca surat itu. Kan Nisa sholatnya bareng-bareng, jadi lama-lama Nisa hafal." jelasnya. Ting! saya baru ngeh.
     "Oh, jadi Nisa hafal karena dengerin bapak pas sholat?" saya berusaha konfirmasi. Dan jawabannya sesuai dugaan (telat) saya. Ia kemudian menceritakan darimana saja hafalannya itu didapatkannya. At-Tin dari bacaan sholat maghrib ayahnya, Ad-Dhuha dari hasil curi dengar abangnya yang menghafal Ad-Dhuha, dan Al-Humazah didapatnya dari sang ibu yang sering mengulang bacaan Al-Humazah. Itulah mengapa hafalannya tak runut sempurna dari An-Nas sampai Ad-Dhuha. Ada beberapa surat yang bahkan belum pernah dihafalnya. 

     Teng-tong...jujur waktu itu saya jadi bingung. Di satu sisi Nisa harus menambah hafalan barang satu ayat, di sisi lain begitu susah menawarkan hafalan padanya. Yang jelas saya nggak mau anak itu sampai ilfil pada saya gegara saya memaksanya menghafal. Bisa-bisa pekan depan ia tak mau datang ke Taman Qur'an lagi. Bisa-bisa nggak mau ngaji lagi. Akhirnya saya kembali ke surat Al-lail yang dibaca Nisa tadi. Memang sih jumlah ayatnya banyak, Nisa bahkan sudah merasa ngeri di awal. Tapi karena saya pikir ia sudah mulai terbiasa dengan ayat pertamanya, dan tentunya akan sangat menghabiskan waktu untuk memulai bacaan baru (mengeja, mengulang-ulang, belum lagi mengingat ayatnya) saya pun meyakinkannya untuk mengulang surat tersebut. 

30-an menit selanjutnya...
    "Hah? lagi?!! Huah.."kata Nisa sambil berekspresi pura-pura pingsan.
    "Hai, mo ikkai (yak, sekali lagi)!", walaupun saya selalu bilang sekali lagi, sekali lagi, kenyataannya saya tak kunjung memberi tanda berhenti. 

     Akhirnya sih saya jujur juga, 
    "Oke, jadi kita ulang bareng-bareng ayat 1-2 lima kali, setelah itu Nisa baca sendiri sampai lancar. Nggak boleh lihat ya?!" Oh ya, kami sudah menginjak ke hafalan ayat kedua. Nggak bisa dibilang cepat sih, yah tidak apa-apa...lumayan :)

     Sesi hafalan kami pun selesai dengan datangnya Okashi Time (waktunya makan cemilan-istilah saya sendiri :p). Setelah itu sesorean saya sempatkan mencolek-colek bahunya tiap ada kesempatan untuk mengulang hafalan barunya sampai ketika ia sedang berada di dekat ibunya,
     "Wal laili idza yaghsya..wan nahaari idza..idza apa kak?" tanyanya. Ibunya turut menoleh juga ke saya. Dengan raut wajah yang demikian datar dan ***** itu saya... aduh mampus mau diapain gue sama ibunya?...

-Bersambung-

12 Mei 2013

Menanti Saat Saya dengan Berat Hati Meninggalkan Ini

Bismillah...

Saya tahu saya baru tujuh bulan disini. Saya tahu saya belum menemukan 'rasa' disini. Saya tahu, rasa 'ingin pulang saja' itu selalu ada di hati. Saya sepenuhnya tahu.
Tapi kembali, merenungi. Amat sia-sia jika saya tak bisa membuat hidup saya 'hidup' disini. Maka, agar saya 'hidup' dalam hidup saya 'rasa' itu harus ditumbuhkan.
Dan kini, saya sedang merindu dan menanti saat-saat itu tiba: Saat saya merasakan beratnya hati meninggalkan Negeri Tanpa Rasa ini, mengakhiri perjuangan disini dan kembali ke tanah kelahiran.
Kira-kira kapan ya?

4 Mei 2013

Dan Jika k'Daus Menghadapi Masalah...

"...dan jika k'Daus menghadapi masalah ingatlah bahwa urusan dunia itu kecil, yang paling besar di dunia ini adalah masalah akhirat. Okeh?..."-Adikmu tersayang, GZ

*merenungi kembali :')

2 Mei 2013

Salah Satu Kebahagiaan Terbesar

Tahukah kalian apa salah satu kebahagiaan terbesar di tanah rantau?
Yep, Salah satu kebahagiaan terbesar di tanah rantau adalah saat-saat pertemuan dengan saudara seiman. 
Tak peduli umur, gender(ups, gender masih peduli deng), daerah asal di Indonesia, profesi seperti pelajar, ibu rumah tangga, pekerja pabrik, sampe yang bingung mendefinisikan profesinya apa. Percaya, selalu ada kehangatan yang tercipta tiap kali percikan-percikan interaksi terjadi. Apapun, kami saling berbagi informasi (mulai dari info barang murah, cara berkompromi dengan aturan di Jepang, sampai resep makanan), berbagi ilmu agama, menguatkan diri.
Oh ya, selalu terselip pula harapan untuk kembali diizinkan bersua suatu saat nanti.

Sayangnya, ketika saat-saat seperti merapat tepat di depan mata ada saja rintangannya. Termasuk ketika melongok ke dalam saku dan tak mendapati bekal yang cukup untuk pergi. Geregetan? iya. Tak apa, semoga lain kali kesempatan diizinkan menyapa kembali. Aamiin *tunduk kepala sejenak*

1 Mei 2013

Janji Sempurna

Tidak ada yang sempurna di dunia ini termasuk janji. Meskipun janji itu terikat hitam di atas putih, apalagi yang hanya diucap tanpa direkam, atau yang hanya asal lontar tanpa dipikirkan. Kecuali...janjiNya, janji Pemilik Kesempurnaan.

Di hari ketika sempurna mengorek-ngorek kembali. Bernostalgia dengan momen bertahun, tahun-tahun yang lalu. Mencoba menarik nafas lebih dalam, menikmati, berterima kasih.